top of page

Memorialisasi Luweng Grubug: Upaya Merawat Ingatan Peristiwa Genosida 1965-1966 Di Yogyakarta

  • 17 Mar 2025
  • 5 menit membaca

Gua Grubug: Panggenan punika kathah sejarahipun", begitu guratan yang ditulis pada sebuah papan kecil berwarna merah sebagai pengingat bahwa ada ratusan (mungkin juga ribuan) nyawa tak bersalah yang dibunuh oleh aparat negara! 




YOGYAKARTA. Pada 13 Oktober 2024, bertepatan dengan hari Minggu Pon, kelompok penyintas 1965-1966 yang menamakan diri Paguyupan Minggu Pon (Pagupon) melakukan aksi tabur bunga. Dalam acara itu juga mereka memasang papan penanda yang bertuliskan aksara Jawa di luweng (gua) Grubug, Wonosari, Gunungkidul, sebuah lokasi pembuangan bagi mereka yang dicap PKI dan simpatisannya. 


Peserta yang mengikuti tabur bunga ada sekitar 140 orang yang terdiri dari 70 orang keluarga penyintas dan 70 lainnya dari jaringan mahasiswa, aktivis dan seniman. Merupakan jumlah terbanyak yang pernah ziarah ke luweng Grubug dibandingkan sebelumnya. Sebagian dari mereka juga membawa tanaman seperti pohon kamboja, kelapa dan banyak tanaman lainnya.


Para peserta itu menggunakan tiga buah bus tua dengan spanduk bertuliskan “Rombongan Wisata Pantai Gunungkidul Pagupon Sleman.” Sebelum berangkat, satu rombongan bus dari Sentolo, Kulon Progo, melakukan tabur bunga di Jembatan Bantar, Kulon Progo serta menanam satu buah pohon damar untuk menandai tempat dibuangnya para korban yang tak bersalah. 

Rombongan tiba di luweng Grubug sekitar pukul 11.00 siang, saat panas terik sudah mulai di atas kepala. Satu-persatu peserta turun dari bus lalu menuju luweng. Para anak muda yang ikut pun saling menggandeng hingga menggendong tubuh renta simbah-simbah ketika ada yang kelelahan. 



Mbah Gondho (83) langsung memimpin doa di hadapan ubo rampe, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kidung mocopat oleh Mbah Hadi Sulaiman. Ada juga kesaksian dari para korban seperti Jiyem (77) yang sempat ditahan di Lapas Cebongan, Sleman, serta keluarga korban seperti Bambang (59), anak yang tak pernah melihat sosok bapaknya yang entah dibuang kemana.

“Saya tidak bisa membayangkan bagaimana seorang anak tidak pernah melihat wajah ayahnya,” ujar salah seorang mahasiswa setelah mendengar kesaksian dari Bambang.

Saat bersamaan, sebagian peserta menanam tanaman yang dibawa di sekitar mulut gua lalu membentuk sebuah taman kecil. Sementara di sekelilingya sudah dipenuhi hamparan pohon-pohon jati yang daunnya sudah mulai kering dan berjatuhan ke tanah. 

Usai pembacaan doa, Ayu (42) sebagai generasi kedua melantunkan lagu gugur bunga dengan penuh khidmat. Seraya diikuti oleh para peserta lain mulai dari anak-anak, remaja, hingga usia lanjut dan membentuk barisan ke belakang dengan membawa bunga lalu menaburkannya ke mulut gua secara bergantian. 

Sementara, di dasar gua sudah ada Badri (80), salah satu penyintas yang sudah terlebih dulu turun bersama tim melalui mulut goa Jomblang. Ia sangat bersemangat untuk masuk ke gua dan membawa pulang  beberapa batu, lumpur, serta air dari dalam untuk dijadikan memorialisasi keci di rumahnya. 



“Oh, disinilah kawan-kawan saya dulu dieksekusi. Mereka (empat orang) adalah kawan dekat saya. Dan pantaslah orang yang dilempar kesini itu pasti mati,” ujar Badri. 

Hujan warna-warni bunga pun seraya turun berjatuhan dari atas lubang bersama pendar cahaya yang masuk hingga ke dasar gua. 


Saat peristiwa 1965-66, Badri ditahan di Kulon Progo karena terlibat aktif dalam penyebaran pamfet untuk mendukung Dewan Revolusi. Walau ditahan selama dua bulan, namun keempat teman dekatnya yang ia kenal selama di penjara diduga dieksekusi di Luweng Grubug. Badri mengalami siksaan yang cukup berat dan ikut kerja paksa membangun sekolah dan kantor polisi di wilayah Kulon Progo.

Lokasi  luweng Grubug adalah terusan dari Goa Jomblang, sebuah lokasi wisata minat khusus yang banyak dikunjungi oleh turis mancanegara. Lokasi pembuangan itu seolah senyap dan tersapu bersih dari hiruk-pikuk pariwisata. 

Tahun 2000, luweng Grubug untuk pertama kalinya didatangi oleh para korban dan keluarga korban genosida 1965-1966, dua tahun setelah jatuhnya rezim Orde Baru Soeharto. Itu menjadi momentum penting bagi korban pelanggaran berat HAM masa lalu untuk mulai berani berkumpul, berhimpun, serta mendatangi lokasi-lokasi kuburan massal lain. Luweng Grubug adalah salah satunya. 


Diperkirakan korban yang dibunuh disana berjumlah 4500-5000 orang dengan cara dilempar ke dalam gua vertikal sedalam 60-80 meter. Lokasi itu juga jadi tempat pembuangan bagi mereka yang dituduh pembunuh misterius (petrus). Selain gua Grubug, ada Jembatan Bantar di Kulon Progo, penjara Wirogunan dan gedung Jafferson di kota Yogyakarta.

Pagupon adalah rumah bagi para korban serta keluarga korban untuk saling mengunjungi, berbagi cerita, arisan rutin, melakukan ziarah hingga menciptakan lagu bertema 1965 dengan nuansa lokal dan konteks hari ini. 

Di Pagupon, Ayu bersama Panji dan generasi korban kedua lainnya, aktif mengoganisir simbah-simbah penyintas di sekitar Godean untuk berkumpul di setiap Minggu Pon atau 35 hari sekali menurut penaggalan Jawa secaa bergiliran.

Saat ini, ada sekitar 70 anggota Pagupon yang rata-rata sudah berusia lanjut. Kebanyakan dari mereka adalah yang sempat ditahan di Lapas Wirogunan, Nusakambangan, tahanan Plantungan khusus perempuan hingga ada yang dibuang ke pulau Buru. 

Selain Pagupon, ada kelompok paguyuban penyintas lain di sekitar Yogyakarta yang juga menggunakan nama hari kalender Jawa seperti kelompok Minggu Wage di Kulon Progo, Minggu Legi di Kalasan dan Minggu Pahing di Bantul. 

Beberapa mahasiswa yang ikut tabur bunga turut memberikan kesaksian baik pada korban maupun keluarga korban. Momen itu bahkan jadi pengalaman pertama mereka untuk bertemu dan mendengar langsung kesaksian para penyintas 65-66.


“Waktu melihat mata simbah-simbah pada saat tabur bunga tadi sepertinya berbicara dan penuh haru juga. Kisah seperti ini tidak saya dapatkan di ruang kelas. Sebagai generasi yang terlalu jauh dengan simbah-simbah saya pikir ini adalah awal untuk merawat akal pikiran kita untuk terus terhubung dan merawat gerakan demi kebenaran,” kata Ainun, seorang mahasiswi sekaligus aktivis perempuan.

“Ini pengalaman yang cukup emosional dan menarik bagi saya ketika bertemu dengan bapak-ibu dan simbah-simbah sekalian. Bahwa negara ini memang berdiri di atas genangan darah. Mereka berkuasa dengan menindas rakyatnya. Jika melihat bagaimana lapisan-lapisan kekerasan negara yang terjadi hari ini tidak bisa lepas dari konteks peristiwa 1965-66,” ujar Dandy, seorang mahasiswa lulusan sejarah. 


Dalam buku The Killing Session: A History of the Indonesian Massacre, 1965-1966 karya Geoffrey B. Robinson (2018), secara geografis pembunuhan terkonsentrasi di provinsi-provinsi padat penduduk, yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bali, Aceh serta Sumatera Utara, juga di sebagian Nusa Tenggara Timur. Sebaliknya, pembunuhan relatif sedikit terjadi di Ibukota Jakarta, Provinsi Jawa Barat, dan sebagian besar Sulawesi serta Maluku. 

Pembunuhan massal itu dimulai di Aceh pada awal Oktober dan menyebar ke Jawa Tengah pada akhir Oktober. Lantas bergerak ke Jawa Timur dan Sumatera Utara pada awal November. Pada Desember 1965, dua bulan setelah dugaan upaya kudeta, kekerasan akhirnya dimulai terjadi di Bali dan diperkirakan delapan ribu orang dibunuh dalam waktu beberapa bulan. 

Sementara itu, di pulau Flores yang mayoritas beragama Katolik, persis di ujung timur Nusantara, pembunuhan baru dimulai pada Februari tahun berikutnya. Aksi kekerasan ini mulai melambat secara signifikan pada Maret 1966, tidak lama setelah Angkatan Darat merebut kekuasaan, tetapi terus terjadi secara sporadis di sejumlah daerah di Indonesia hingga 1968. 

Usai melakukan tabur bunga di luweng Grubug, rombongan kembali melanjutkan perjalanannya menuju pantai Watu Kodok, Gunungkidul. Jasad para korban yang di buang ke luweng batuan karst, diyakini mengikuti aliran sungai bawah tanah yang menembus ke samudera laut. 

Satu-persatu peserta rombongan memenuhi bibir pantai dan mengambil bunga lalu menaburkannya ke laut. Ubo rampe atau sesaji yang sudah disiapkan dengan rakitan bambu dan rapalan doa dari Mbah Gondho, segera dilarungkan di tengah deburan ombak laut selatan untuk memberikan penghormatan kepada para korban.



 
 

© 2025 memorialdocfilm.id

bottom of page